KHOY GHONE

Thumnuild Novel Khoy Ghone


PROLOG Permainan yang Belum Dimulai

Hujan turun perlahan membasahi Kota Arunika.

Malam itu, langit begitu gelap hingga cahaya bulan tak sanggup menembus awan yang menggantung rendah. Jalanan mulai lengang. Lampu-lampu kota memantulkan bayangan yang berkilau di atas aspal basah.

Di sebuah gang sempit yang hanya diterangi satu lampu jalan, seorang pria berlari dengan napas tersengal.

Kemeja putihnya dipenuhi bercak darah.

Ia beberapa kali menoleh ke belakang, seolah ada sesuatu yang terus mengejarnya.

"Jangan... jangan bunuh aku..."

Suara pria itu bergetar.

Ia terus berlari hingga tiba di ujung gang.

Langkahnya mendadak terhenti.

Jalan buntu.

Tembok beton setinggi hampir tiga meter berdiri tepat di hadapannya.

Pria itu memukul-mukul tembok dengan panik.

"Tolong...! Tolong...!"

Tak ada jawaban.

Tak ada seorang pun.

Hanya suara hujan yang semakin deras.

Perlahan...

Terdengar langkah kaki.

Tok... Tok... Tok...

Suara sepatu kulit menggema dari balik gelapnya gang.

Pria itu menelan ludah.

Matanya membelalak ketika melihat sesosok pria keluar dari bayangan.

Pria itu mengenakan mantel hitam panjang.

Wajahnya tertutup sebagian oleh bayangan topi.

Yang terlihat hanyalah sepasang mata yang tenang.

Terlalu tenang.

"Si... siapa kau...?" tanya pria itu dengan suara gemetar.

Pria bermantel hitam tidak segera menjawab.

Ia berhenti beberapa meter di depan korbannya.

Lalu mengeluarkan sebuah jam saku dari dalam mantel.

Jarumnya menunjukkan pukul 23.59.

Pria bermantel itu menutup jam tersebut dengan pelan.

"Aku selalu datang tepat waktu," ucapnya tenang.

Pria yang terpojok itu langsung berlutut.

"Aku bisa bayar berapa pun! Tolong... jangan bunuh aku..."

Pria bermantel hitam memiringkan kepala.

"Kalau uang bisa membeli penyesalan..."

Ia melangkah satu langkah mendekat.

"...kau seharusnya sudah membelinya sejak lama."

Air mata mulai bercampur dengan air hujan di wajah pria itu.

"Aku... aku hanya menjalankan perintah..."

Pria bermantel itu terdiam beberapa saat.

Kemudian ia berkata dengan suara yang nyaris seperti bisikan.

"Semua orang selalu berkata begitu."

Hening.

Beberapa detik berlalu.

Lalu...

Lampu jalan di ujung gang tiba-tiba padam.

Kegelapan menelan seluruh gang.

Pukul 06.15.

Sirene polisi memecah kesunyian pagi.

Garis polisi membentang di mulut gang.

Puluhan warga berdesakan ingin melihat apa yang terjadi.

Seorang pria ditemukan meninggal.

Tubuhnya terbaring rapi.

Tak ada luka yang tampak mencolok.

Namun ekspresi wajahnya membeku dalam ketakutan.

Di dekat jasad itu terdapat sebuah kartu remi bergambar Joker.

Tidak ada sidik jari.

Tidak ada jejak kaki.

Tidak ada saksi.

Seolah pembunuhnya lenyap ditelan malam.

Seorang penyidik muda menggeleng pelan.

"Mustahil..."

Ia memandang kartu remi itu dengan wajah pucat.

"Ini korban ketiga bulan ini."

Penyidik lain menghela napas panjang.

"Kalau begitu..."

Ia menatap ke arah garis polisi yang mulai dibuka.

"...panggil mereka."

"Panggil siapa, Pak?"

Penyidik senior menjawab tanpa ragu.

"Dua orang yang belum pernah kalah melawan penjahat."

Beberapa menit kemudian...

Sebuah sedan hitam berhenti di depan garis polisi.

Dua pria turun hampir bersamaan.

Yang pertama mengenakan jas hitam sederhana.

Wajahnya tenang.

Tatapannya tajam.

Yang kedua mengenakan kemeja abu-abu dengan senyum tipis yang selalu menghiasi wajahnya.

Mereka berjalan melewati kerumunan warga.

Tak seorang pun berani menghalangi langkah mereka.

Penyidik senior memberi hormat.

"Selamat pagi, Pak Khoy."

Pria berjas hitam hanya mengangguk pelan.

"Selamat pagi."

Penyidik itu kemudian menoleh kepada pria di sampingnya.

"Pak Shai."

Shai Ghone membalas dengan senyum ramah.

"Pagi. Sepertinya kota ini tidak memberi kita waktu untuk libur."

Khoy Ghone berdiri menatap jasad beberapa saat.

Tanpa berkata apa-apa.

Sementara itu, Shai mengamati seluruh gang dengan santai.

Tak ada seorang pun yang menyadari...

Bahwa salah satu dari dua detektif terbaik itu...

Telah mengetahui jawaban misteri tersebut...

Bahkan sebelum polisi menemukan mayatnya.

Permainan itu...

Baru saja dimulai.





TKP Pertama



Pukul 06.18.

Hujan yang semalam mengguyur Kota Arunika akhirnya berhenti. Udara pagi masih dingin. Embusan angin membawa aroma tanah basah yang bercampur dengan bau karat dari pagar-pagar tua di sepanjang gang sempit Jalan Melati.

Gang itu telah dipenuhi garis polisi.

Warga berdesakan di balik pembatas. Mereka saling berbisik, mencoba menebak-nebak apa yang sebenarnya terjadi.

"Katanya ada pembunuhan."

"Korbannya orang penting?"

"Bukan... katanya pengusaha."

Seorang polisi muda berulang kali meminta warga mundur.

"Mohon mundur! Jangan melewati garis polisi!"

Namun tak seorang pun benar-benar pergi.

Semua ingin melihat.

Semua ingin tahu.

Di ujung gang, sesosok mayat masih terbaring di atas aspal yang basah.

Tubuhnya tampak rapi.

Tidak ada luka besar.

Tidak ada darah yang menggenang.

Tetapi wajah korban membeku dalam ekspresi ketakutan yang sulit dijelaskan.

Di samping tangan kanannya...

Tergeletak sebuah kartu remi bergambar Joker.

Seorang penyidik muda menelan ludah.

"Pak..."

Ia menoleh kepada atasannya.

"Ini korban ketiga dalam sebulan."

Penyidik senior menghela napas panjang.

"Aku tahu."

"Sidik jari?"

"Tidak ada."

"Jejak kaki?"

"Hujan menghapus semuanya."

"Saksi?"

"Tidak ada."

Penyidik senior memejamkan mata beberapa detik.

Kemudian ia berkata pelan,

"Panggil mereka."

Polisi muda itu langsung mengerti.

Tanpa bertanya lagi, ia segera mengambil telepon genggamnya.

Dua puluh menit kemudian.

Sebuah sedan hitam berhenti tepat di depan garis polisi.

Suasana yang semula ramai mendadak berubah sunyi.

Beberapa wartawan saling berbisik.

"Mereka datang."

"Pantas saja polisi tidak berani menyentuh TKP."

Pintu mobil terbuka.

Seorang pria berusia sekitar tiga puluh lima tahun turun lebih dahulu.

Setelan jas hitamnya sederhana.

Tidak ada ekspresi berlebihan di wajahnya.

Tatapannya tenang.

Namun begitu matanya mengarah ke lokasi kejadian, suasana di sekitarnya seolah ikut berubah.

Dialah Detektif Khoy Ghone.

Tak lama kemudian, pintu sebelah terbuka.

Seorang pria lain keluar sambil merapikan lengan kemeja abu-abunya.

Wajahnya jauh lebih ramah.

Senyum tipis selalu menghiasi bibirnya.

Ia menatap kerumunan warga sebelum menghela napas pelan.

"Hari libur lagi-lagi gagal," gumamnya.

Pria itu adalah Detektif Shai Ghone.

Partner Khoy.

Sekaligus satu-satunya orang yang mampu mengikuti cara berpikir Khoy.

Penyidik senior segera menghampiri mereka.

"Selamat pagi, Pak Khoy. Pak Shai."

Khoy menganggukkan kepala.

"Pagi."

Shai membalas dengan senyum kecil.

"Pagi, Pak. Kelihatannya kasus kali ini membuat Bapak tidak bisa tidur."

Penyidik senior tersenyum pahit.

"Sudah tiga korban."

Shai menghentikan langkahnya.

"Tiga?"

"Iya."

"Modus yang sama?"

Penyidik senior mengangguk.

"Kartu Joker."

Shai melirik Khoy.

Khoy tidak berkata apa-apa.

Tatapannya sudah tertuju ke arah jasad.

Begitu melewati garis polisi, Khoy langsung berjongkok di samping korban.

Ia tidak menyentuh tubuh itu.

Ia hanya mengamati.

Mulai dari posisi kepala.

Jari-jari tangan.

Sepatu.

Hingga genangan air yang mulai mengering.

Sementara itu, Shai berjalan perlahan mengelilingi lokasi.

Ia tidak melihat mayat.

Justru ia lebih banyak memperhatikan dinding gang.

Tempat sampah.

Saluran air.

Atap rumah.

Seorang polisi muda memperhatikan keduanya dengan bingung.

Ia mendekati penyidik senior.

"Pak..."

"Iya?"

"Kenapa mereka tidak memeriksa mayatnya?"

Penyidik senior tersenyum tipis.

"Karena mereka sedang memeriksa pembunuhnya."

Polisi muda itu mengernyit.

"Pembunuhnya?"

"Ya."

"Maksud Bapak?"

Penyidik senior menatap Khoy dan Shai.

"Mereka selalu berkata..."

'Mayat tidak pernah berbohong. Tapi tempat di sekeliling mayat sering kali lebih jujur daripada tubuh korbannya.'

Polisi muda itu terdiam.

Saat itulah Shai berhenti melangkah.

Ia memandang sebuah talang air di atas rumah.

Lalu tersenyum tipis.

"Menarik..."

Khoy yang masih berjongkok tidak menoleh.

"Apa yang kau temukan?"

Shai menunjuk ke arah talang.

"Ada sesuatu yang seharusnya tidak ada."

Khoy berdiri perlahan.

Tatapannya mengikuti arah yang ditunjukkan Shai.

Beberapa detik kemudian...

Sudut bibir Khoy ikut terangkat.

Untuk pertama kalinya sejak tiba di lokasi.

"Aku mengerti."

Penyidik senior segera mendekat.

"Pak Khoy?"

Khoy mengalihkan pandangannya dari talang air.

Lalu berkata dengan tenang,

"Pak, tolong jangan ada seorang pun meninggalkan lokasi ini."

"Kenapa?"

Khoy menjawab singkat.

"Karena..."

"...pembunuhnya kemungkinan besar sedang berdiri di antara kita."

Suasana mendadak hening.

Seluruh polisi saling berpandangan.

Sementara itu...

Di antara kerumunan warga yang menyaksikan dari balik garis polisi...

Seorang pria bertopi menundukkan kepalanya.

Lalu diam-diam membalikkan badan.

Ia mulai berjalan menjauh.

Tanpa menyadari...

Sepasang mata milik Shai Ghone telah mengikutinya sejak tadi.

Bersambung ke Bab 2...




Pembunuh di Antara Kerumunan

Suasana di gang sempit itu berubah tegang.

Ucapan Khoy Ghone barusan membuat seluruh polisi refleks menoleh ke arah kerumunan warga.

"Jangan ada yang keluar dari lokasi!" perintah Penyidik Senior Arman dengan suara lantang.

Beberapa anggota polisi segera menutup akses gang.

Warga yang semula ingin pulang terpaksa berhenti.

Mereka saling memandang dengan wajah bingung.

"Ada apa?"

"Kenapa kami tidak boleh pulang?"

"Kami tidak melakukan apa-apa!"

Di tengah keributan itu, Khoy tetap berdiri tenang.

Tatapannya menyapu setiap wajah di hadapannya.

Sementara Shai Ghone masih memperhatikan pria bertopi yang perlahan berjalan menjauh dari kerumunan.

Namun Shai tidak mengejarnya.

Belum.

Ia justru kembali menoleh ke arah Khoy.

"Khoy."

"Apa?"

"Kurasa kita menemukan orang yang sama."

Khoy tidak langsung menjawab.

Ia melangkah perlahan menuju talang air yang berada di sisi kanan gang.

Dengan bantuan seorang polisi, ia menaiki bangku kecil untuk melihat lebih dekat.

Beberapa detik kemudian ia turun kembali.

"Ada serpihan cat."

Penyidik Senior Arman mengernyit.

"Serpihan cat?"

Khoy mengangguk.

"Cat ini masih baru."

"Kenapa itu penting, Pak?" tanya seorang polisi muda.

Khoy mengambil kantong plastik bening dari tas forensiknya.

Di dalamnya terdapat serpihan cat berwarna hitam mengilap.

"Talang air ini dicat lima hari lalu."

Semua orang saling berpandangan.

"Lalu?"

"Serpihan cat ini terkelupas sangat kecil."

Khoy menatap ke arah talang.

"Artinya..."

"...seseorang memanjatnya setelah dicat."

Polisi muda itu tampak belum mengerti.

Shai menghampiri sambil memasukkan kedua tangannya ke saku celana.

"Lihat tinggi talangnya."

Polisi muda mendongak.

Sekitar tiga meter.

"Kalau hanya untuk lewat..."

"Orang itu tidak akan menginjak bagian yang baru dicat," lanjut Shai Ghone.

"Artinya dia terburu-buru," gumam polisi muda.

"Benar."

Shai tersenyum tipis.

"Dan orang yang terburu-buru biasanya sedang melarikan diri."

Khoy kembali berjongkok di dekat jasad.

Pandangannya tertuju pada kartu Joker yang berada di samping tangan korban.

Ia tidak langsung menyentuhnya.

"Pak Arman."

"Iya, Pak Khoy."

"Korban pertama dan kedua..."

"Apakah juga ditemukan kartu seperti ini?"

Pak Arman mengangguk.

"Sama persis."

"Tidak ada sidik jari?"

"Tidak ada."

Khoy menghela napas pelan.

"Lalu media sudah memberitakan kartu Joker?"

Pak Arman terdiam.

"Sudah."

Khoy menutup matanya beberapa detik.

"Itu kesalahan."

Pak Arman tampak menyesal.

"Maksud Anda?"

"Sekarang pembunuh tahu..."

"...bahwa polisi menganggap kartu ini sebagai ciri khasnya."

Shai menimpali sambil tersenyum kecil.

"Mulai sekarang dia akan bermain lebih hati-hati."

Di sisi lain gang.

Pria bertopi tadi mempercepat langkahnya.

Ia berusaha keluar dari kerumunan tanpa menarik perhatian.

Namun baru beberapa meter berjalan...

Sebuah suara menghentikannya.

"Pak."

Pria itu berhenti.

Ia menoleh perlahan.

Shai berdiri sekitar lima meter darinya.

Masih dengan senyum ramah.

"Boleh saya melihat telapak tangan Anda?"

Pria bertopi itu tampak kebingungan.

"Kenapa?"

"Tidak lama."

"Hanya sebentar."

Pria itu ragu.

Lalu perlahan mengangkat kedua tangannya.

Shai memperhatikannya selama beberapa detik.

Kemudian tersenyum.

"Terima kasih."

Pria bertopi itu tampak lega.

Ia kembali berjalan meninggalkan lokasi.

Seorang polisi muda menghampiri Shai.

"Pak..."

"Kenapa dilepas?"

Shai hanya menjawab singkat.

"Karena bukan dia."

"Terus kenapa Bapak menghentikannya?"

Shai memandang ke arah kerumunan.

"Kadang..."

"...untuk menemukan orang yang gugup..."

"...kita cukup membuat semua orang ikut gugup."

Polisi muda itu kembali kebingungan.

Namun Khoy yang mendengar ucapan itu hanya tersenyum tipis.

Ia memahami maksud partnernya.

Saat semua mata tertuju kepada pria bertopi...

Seseorang yang sejak tadi berusaha terlihat tenang...

Baru saja melakukan satu kesalahan kecil.

Kesalahan yang luput dari perhatian semua orang...

Kecuali Khoy dan Shai.

Khoy perlahan menoleh ke arah seorang pria berjaket cokelat yang berdiri di dekat mobil ambulans.

Pria itu tampak tenang.

Terlalu tenang.

Khoy menatapnya tanpa berkedip.

Lalu berkata pelan kepada Shai.

"Dia."

Shai mengangguk.

"Aku juga berpikir begitu."

Untuk pertama kalinya...

Dua detektif terbaik di Kota Arunika...

Menatap langsung ke arah orang yang mereka yakini sebagai pembunuh.

Bersambung ke Bab 3...



Kesalahan yang Terlalu Sempurna




Gang sempit itu masih dipenuhi polisi.

Tak seorang pun diizinkan meninggalkan lokasi.

Semua mata kini tertuju kepada seorang pria berjaket cokelat yang berdiri tak jauh dari ambulans.

Pria itu tampak tenang.

Terlalu tenang.

Khoy Ghone melangkah perlahan mendekatinya.

Sementara Shai Ghone berjalan dari sisi yang berlawanan, seolah tanpa sengaja mempersempit ruang gerak pria tersebut.

Pria berjaket cokelat itu memaksakan senyum.

"Ada yang bisa saya bantu, Pak?"

Khoy berhenti tepat di depannya.

"Boleh kami melihat kartu identitas Anda?"

Pria itu segera mengeluarkan dompet.

"Tentu."

Ia menyerahkan kartu identitasnya tanpa ragu.

Penyidik Senior Arman menerima kartu itu lalu membacanya.

"Rudi Hartono. Usia empat puluh satu tahun."

Khoy mengangguk pelan.

"Pak Rudi."

"Iya."

"Sejak kapan Bapak berada di sini?"

"Baru sekitar lima belas menit."

"Kenapa datang?"

"Saya dengar ada keributan."

Khoy kembali mengangguk.

Lalu ia menoleh kepada Shai.

Shai hanya mengangkat bahu kecil.

Belum ada yang aneh.

Khoy berjalan menuju jasad.

Ia kembali memperhatikan posisi tubuh korban.

Kemudian pandangannya berpindah ke arah sepatu korban.

Ia berjongkok.

Tangannya menunjuk ke arah sol sepatu.

"Pak Arman."

"Iya?"

"Korban ditemukan pukul berapa?"

"Enam lewat lima."

"Hujan berhenti sekitar pukul lima tiga puluh."

"Benar."

Khoy mengangguk.

"Lihat sol sepatunya."

Semua polisi mendekat.

"Kenapa dengan sepatu korban?" tanya seorang polisi muda.

Khoy menjawab tenang.

"Solnya bersih."

Polisi muda itu mengernyit.

"Lalu?"

Shai ikut berjongkok di samping Khoy.

"Kalau korban berjalan melewati gang ini setelah hujan..."

"...solnya pasti basah dan berlumpur."

Polisi muda langsung memahami.

"Berarti korban tidak berjalan ke sini?"

"Tepat."

Shai berdiri.

"Korban dibawa ke tempat ini."

Suasana kembali hening.

Pak Arman tampak terkejut.

"Artinya TKP ini..."

"Bukan tempat korban dibunuh," sambung Khoy.

Pak Arman segera memberi perintah.

"Periksa seluruh kendaraan yang keluar masuk sejak subuh!"

"Siap!"

Beberapa polisi langsung berlari.

Sementara itu, Shai berjalan mengelilingi ambulans.

Matanya berhenti pada roda belakang kendaraan pengangkut jenazah.

Ia tersenyum kecil.

"Khoy."

"Ada apa?"

"Kemarilah."

Khoy menghampiri.

Shai menunjuk ke arah aspal.

"Tanda ban."

Khoy memperhatikannya beberapa saat.

"Mobil besar."

"Bukan ambulans."

"Bukan."

Shai mengangguk.

"Bekasnya masih baru."

Khoy memandang lurus ke ujung gang.

"Lalu mobil itu..."

"...masuk setelah hujan berhenti."

Shai menganggukkan kepala.

"Persis."

Di sisi lain.

Pria berjaket cokelat mulai tampak gelisah.

Keringat dingin muncul di dahinya.

Ia mencoba perlahan mundur selangkah.

Namun baru saja ia berbalik...

Seorang polisi sudah berdiri di belakangnya.

"Mau ke mana, Pak?"

"Saya..."

"Saya hanya mau menelepon istri."

Polisi itu menggeleng.

"Maaf."

"Belum boleh."

Beberapa menit kemudian...

Seorang anggota forensik berlari menghampiri Pak Arman.

"Pak!"

"Ada temuan."

"Apa?"

"Kami menemukan serat kain hitam di bawah kuku korban."

Pak Arman langsung menoleh kepada Khoy.

Khoy meminta kantong barang bukti itu.

Ia mengamatinya cukup lama.

Kemudian menyerahkannya kepada Shai.

Shai hanya melihat sekilas.

Lalu tersenyum.

"Sudah kuduga."

Pak Arman tampak bingung.

"Pak Shai..."

"Kenapa Bapak tersenyum?"

Shai menjawab santai.

"Karena..."

"...akhirnya pembunuh membuat kesalahan."

Pak Arman langsung bertanya,

"Berarti pria berjaket cokelat itu pelakunya?"

Shai menggeleng.

"Bukan."

Semua orang terdiam.

Pak Arman membelalakkan mata.

"Bukan?"

"Tapi bukankah sejak tadi..."

Shai memotong ucapannya.

"Dia memang berbohong."

"Tetapi..."

"...dia bukan pembunuh."

Pak Arman semakin bingung.

"Kalau begitu..."

"Siapa pembunuhnya?"

Khoy menatap kartu Joker yang masih berada di dekat jasad.

Lalu berkata dengan suara tenang.

"Orang yang kita cari..."

"...bahkan belum pernah masuk ke dalam daftar tersangka."

Seluruh polisi saling berpandangan.

Tak seorang pun menyadari...

Bahwa penyelidikan mereka...

Baru saja dimulai.

Bersambung ke Bab 4...




Orang yang Tak Pernah Dicurigai




Suasana di gang Jalan Melati berubah semakin sunyi.

Ucapan Detektif Khoy Ghone membuat seluruh anggota kepolisian saling berpandangan.

"Orang yang kita cari bahkan belum pernah masuk ke dalam daftar tersangka."

Kalimat itu terus terngiang di kepala mereka.

Penyidik Senior Arman menghela napas pelan.

"Pak Khoy... kalau bukan pria berjaket cokelat itu, lalu kenapa dia berbohong?"

Khoy tidak langsung menjawab.

Ia menoleh kepada Shai Ghone.

"Shai."

Shai memahami maksud partnernya.

Ia berjalan menghampiri pria berjaket cokelat yang sejak tadi dijaga dua polisi.

"Bapak tadi bilang baru datang lima belas menit yang lalu."

Pria itu mengangguk gugup.

"Iya."

Shai tersenyum tipis.

"Itu bohong."

Wajah pria itu langsung pucat.

"Sa... saya..."

"Bapak memang sudah berada di sini sejak pukul enam kurang sepuluh."

Pria itu terdiam.

Shai melanjutkan dengan nada tenang.

"Jangan khawatir."

"Kami tidak sedang mencari pembohong."

"Kami sedang mencari pembunuh."

Pria itu menundukkan kepala.

Beberapa detik kemudian ia berkata lirih.

"Saya memang datang lebih awal."

"Kenapa berbohong?" tanya Pak Arman.

Pria itu menarik napas panjang.

"Saya..."

"...saya berjudi dengan korban."

Semua orang terdiam.

"Saya punya utang kepada korban."

"Saya takut kalau polisi tahu, saya akan dituduh membunuhnya."

Pak Arman memejamkan mata sambil menggeleng pelan.

"Jadi kau panik."

Pria itu mengangguk.

"Saya takut."

Shai menepuk pelan bahu pria tersebut.

"Ketakutan sering membuat orang jujur terlihat seperti penjahat."

"Lain kali, jangan berbohong kepada polisi."

Pria itu hanya mampu mengangguk.

Sementara itu...

Khoy masih berdiri di dekat jasad.

Tatapannya tidak pernah lepas dari kartu Joker.

Ia mengenakan sarung tangan karet.

Perlahan ia mengangkat kartu tersebut menggunakan pinset.

Di balik kartu itu...

Tidak ada apa pun.

Kosong.

Namun Khoy justru memperhatikannya lebih lama.

"Shai."

"Iya?"

"Coba lihat ini."

Shai menghampiri.

Khoy menyerahkan kartu itu.

Shai memiringkan kartu ke arah cahaya matahari.

Beberapa detik kemudian...

Senyumnya perlahan menghilang.

"Aneh."

Pak Arman mendekat.

"Apa yang aneh?"

Shai menunjuk sudut kanan bawah kartu.

"Bagian ini."

Pak Arman memperhatikan dengan saksama.

"Ada apa?"

Khoy menjawab singkat.

"Kartu ini baru."

"Lalu?"

"Tetapi korban meninggal sebelum hujan berhenti."

Pak Arman masih belum mengerti.

Shai kemudian menjelaskan.

"Kalau kartu ini sudah berada di tanah sejak semalam..."

"...kertasnya pasti menyerap air."

"Namun lihat."

"Kondisinya masih terlalu kering."

Pak Arman membelalakkan mata.

"Berarti..."

Khoy mengangguk pelan.

"Kartu Joker ini tidak ditinggalkan saat pembunuhan terjadi."

"Melainkan..."

"...diletakkan setelah hujan berhenti."

Ruangan mendadak hening.

Seorang polisi muda bergumam pelan.

"Kalau begitu..."

"...berarti pembunuh kembali ke TKP?"

Khoy menggeleng.

"Bukan."

Semua kembali bingung.

"Bukan pembunuh."

"Tetapi seseorang yang ingin..."

"...kita percaya bahwa semua korban dibunuh oleh orang yang sama."

Pak Arman langsung menoleh ke arah dua korban sebelumnya.

"Pak Khoy..."

"Jangan-jangan..."

Khoy mengangguk.

"Kita harus membuka kembali seluruh berkas korban pertama dan kedua."

"Mungkin sejak awal..."

"...kita mengejar orang yang salah."

Di luar garis polisi...

Seorang pria berusia sekitar lima puluh tahun berdiri di balik kerumunan.

Ia mengenakan topi hitam dan masker.

Tatapannya tertuju kepada Khoy dan Shai.

Perlahan...

Sudut bibirnya terangkat.

"Menarik..."

gumam pria itu pelan.

"Mereka lebih cepat dari perkiraanku."

Ia berbalik.

Lalu berjalan meninggalkan lokasi tanpa menarik perhatian siapa pun.

Tak seorang pun mengetahui...

Bahwa pria itu baru saja memastikan satu hal.

Dua detektif terbaik di kota...

Akan menjadi ancaman besar bagi rencana-rencananya di masa depan.

Bersambung ke Bab 5...




Kesimpulan yang Terlalu Cepat




Markas Besar Kepolisian Kota Arunika mulai dipenuhi aktivitas ketika jam menunjukkan pukul 09.40.

Di lantai tiga, ruang rapat Divisi Reserse dipenuhi tumpukan berkas, foto TKP, dan papan putih yang penuh dengan garis-garis penghubung antar-korban.

Di bagian paling atas papan itu tertulis dengan tinta merah:

KASUS JOKER

Di bawahnya terpampang tiga foto korban.

Semuanya memiliki kesamaan.

Tidak ada luka yang mencolok.

Tidak ada saksi.

Dan selalu ditemukan sebuah kartu Joker di dekat jasad.

Beberapa penyidik memperhatikan papan itu dengan wajah tegang.

"Kalau benar pembunuhnya berbeda..."

"Berarti kita mengulang penyelidikan dari awal."

"Semua laporan tiga bulan terakhir harus diperiksa lagi."

Suasana rapat mulai dipenuhi keluhan.

Saat itulah pintu ruang rapat terbuka.

Khoy Ghone dan Shai Ghone masuk tanpa tergesa-gesa.

Semua orang langsung berdiri memberi salam.

"Pagi, Pak."

Khoy membalas dengan anggukan singkat.

Shai tersenyum ramah.

"Pagi semuanya. Sepertinya kopi kalian sudah habis sebelum rapat dimulai."

Beberapa penyidik tertawa kecil.

Ketegangan di ruangan itu sedikit mencair.

Penyidik Senior Arman mengambil sebuah map cokelat tebal.

"Pak Khoy."

"Ini seluruh hasil autopsi tiga korban."

Khoy menerimanya.

Ia tidak langsung membuka halaman pertama.

Sebaliknya...

Ia membolak-balik beberapa lembar terakhir.

Shai yang duduk di sampingnya hanya memperhatikan.

"Kau mencari apa?" tanya Shai.

"Bukan apa."

Khoy menutup map itu.

"Siapa."

Shai tersenyum tipis.

"Itu berarti kau sudah menemukan sesuatu."

Khoy tidak menjawab.

Ia justru berdiri, lalu berjalan menuju papan berisi foto-foto korban.

"Pak Arman."

"Iya."

"Korban pertama bekerja sebagai apa?"

"Pemilik perusahaan ekspedisi."

"Korban kedua?"

"Pengembang properti."

"Korban ketiga?"

"Pedagang emas."

Ruangan kembali sunyi.

Seorang penyidik muda berkata pelan,

"Tidak ada hubungannya."

"Itulah yang membuat kami kesulitan."

Khoy mengangguk.

"Lalu..."

"Rekening bank mereka?"

Pak Arman tampak terkejut.

"Rekening?"

"Iya."

"Kami belum memeriksanya."

"Kenapa?"

"Karena tidak ada indikasi perampokan."

Khoy meletakkan map di atas meja.

"Lakukan sekarang."

Dua jam kemudian.

Seorang analis keuangan berlari memasuki ruang rapat.

"Nemu!"

Semua orang spontan menoleh.

"Ada hubungan."

Pak Arman segera berdiri.

"Apa?"

Analis itu membuka laptopnya.

"Ketiga korban pernah mentransfer uang ke perusahaan yang sama."

"Perusahaan apa?"

"PT Cakrawala Mandiri."

Pak Arman mengernyit.

"Perusahaan itu bergerak di bidang apa?"

Analis itu terdiam.

"Laporannya aneh."

"Alamat kantornya kosong."

"Izinnya masih aktif."

"Tapi tidak ada kegiatan usaha."

Ruangan kembali sunyi.

Shai bersandar di kursinya.

"Perusahaan hantu."

Analis itu mengangguk.

"Sepertinya begitu."

Khoy mengambil spidol.

Ia menuliskan nama perusahaan itu di papan.

Lalu membuat lingkaran besar di sekelilingnya.

"Mulai sekarang..."

"...jangan lagi mengejar kartu Joker."

Seluruh penyidik memandang Khoy dengan bingung.

"Kenapa, Pak?"

Khoy menjawab tenang.

"Kartu itu hanya umpan."

"Yang harus kita cari..."

"...adalah uang."

Sore harinya.

Seorang petugas kembali memasuki ruang rapat dengan napas terengah-engah.

"Pak!"

Pak Arman berdiri.

"Ada apa lagi?"

"PT Cakrawala Mandiri..."

"...baru saja terbakar."

Ruangan mendadak hening.

"Kapan?"

"Tiga puluh menit yang lalu."

"Korban?"

"Tidak ada."

Shai perlahan berdiri dari kursinya.

Senyumnya menghilang.

"Khoy."

Khoy menatap partnernya.

"Ya."

"Kurasa..."

"...seseorang sedang membersihkan jejak."

Khoy mengangguk pelan.

"Dan dia tahu..."

"...kita sedang mengejarnya."

Di luar gedung kepolisian...

Asap hitam terlihat membumbung ke langit.

Seseorang...

Selangkah lebih dulu dari mereka.

Bersambung ke Bab 6...




Api yang Menghapus Jejak

Sirene mobil polisi meraung memecah sore Kota Arunika.

Tiga mobil patroli melaju beriringan menuju kawasan industri di pinggir kota. Di belakangnya, sedan hitam yang dikendarai Detektif Khoy Ghone membelah kemacetan dengan tenang.

Di kursi penumpang, Shai Ghone memperhatikan kepulan asap hitam yang terlihat dari kejauhan.

"Asapnya cukup besar," ujar Shai sambil menatap keluar jendela.

Khoy tetap fokus pada jalan.

"Semoga kita belum terlambat."

Lima belas menit kemudian...

Mereka tiba di depan sebuah bangunan dua lantai yang kini tinggal kerangka hitam.

Api memang sudah berhasil dipadamkan.

Namun hawa panas masih terasa.

Petugas pemadam kebakaran sibuk menyiram bara yang tersisa.

Garis polisi kembali dipasang.

Pak Arman menghampiri Khoy dan Shai.

"Seluruh isi kantor habis terbakar."

"Tidak ada korban jiwa?" tanya Khoy.

"Tidak ada."

"Penjaga?"

"Sudah menghilang sebelum kebakaran."

Shai mengangguk pelan.

"Berarti gedung ini memang sengaja dikosongkan."

Khoy mengenakan masker dan sarung tangan.

Ia memasuki bangunan yang dipenuhi bau kayu hangus.

Langkahnya pelan.

Matanya mengamati setiap sudut.

Shai berjalan ke arah ruang resepsionis yang nyaris rata dengan tanah.

Di antara puing-puing...

Ia berhenti.

"Khoy."

Khoy menoleh.

"Apa?"

"Ke sini."

Khoy mendekat.

Shai berjongkok, lalu menunjuk lantai yang dipenuhi abu.

"Lihat."

Di tengah abu yang hitam pekat...

Terdapat sebuah bagian lantai yang justru tampak lebih bersih.

Berbentuk persegi panjang.

Khoy memperhatikannya beberapa detik.

"Lemari arsip."

Shai mengangguk.

"Dipindahkan sebelum gedung dibakar."

Pak Arman yang ikut mendekat tampak heran.

"Bagaimana kalian tahu?"

Khoy menunjuk bekas gesekan di lantai.

"Kalau lemari terbakar di tempatnya..."

"...bekas ini tidak akan ada."

"Artinya..."

"...seseorang mengambil seluruh dokumen penting lebih dulu."

Pak Arman mengepalkan tangan.

"Mereka benar-benar tidak meninggalkan apa pun."

"Tidak," jawab Khoy tenang.

"Mereka meninggalkan satu hal."

Pak Arman menoleh.

"Apa itu?"

"Rasa panik."

Di lantai dua bangunan.

Seorang anggota laboratorium forensik memanggil.

"Pak Khoy!"

Khoy dan Shai segera menaiki tangga darurat yang sebagian sudah runtuh.

"Pak."

Petugas forensik menyerahkan sebuah kantong plastik transparan.

"Ini ditemukan di bawah meja yang terbakar."

Khoy melihat isinya.

Sebuah flashdisk.

Bagian luarnya menghitam.
Shai tersenyum kecil.

"Lucu."

"Apa?"

"Semua kertas dibawa."

"Semua ruangan dibakar."

"Tapi benda sekecil ini justru tertinggal."

Khoy memutar flashdisk itu di tangannya.

"Mungkin..."

"...mereka tidak tahu benda ini ada."

Satu jam kemudian.

Di laboratorium digital kepolisian.

Seorang teknisi berusaha membaca isi flashdisk tersebut.

Seluruh ruangan menunggu dalam diam.

"Lima puluh persen..."

"Enam puluh..."

"Tujuh puluh..."

Tiba-tiba layar komputer menyala.

"Berhasil!"

Semua orang mendekat.

Di dalam flashdisk hanya ada satu folder.

Folder itu bernama:

PEMBAYARAN

Pak Arman tersenyum lebar.

"Akhirnya..."

Teknisi membuka folder tersebut.

Namun senyum di wajah semua orang perlahan menghilang.

Isi folder...

Kosong.

Tak ada satu pun berkas.

Shai mengerutkan kening.

"Aneh."

Teknisi kembali memeriksa.

"Pak..."

"Seluruh file baru saja dihapus."

"Kapan?"

Teknisi menelan ludah.

"Kurang dari dua jam yang lalu."

Pak Arman membelalakkan mata.

"Tidak mungkin!"

"Flashdisk ini ditemukan di gedung yang terbakar!"

Teknisi mengangguk.

"Itulah yang aneh."

Khoy memandang layar komputer tanpa berkedip.

Kemudian ia berkata pelan,

"Tidak."

"Bukan aneh."

Semua menoleh kepadanya.

Khoy melanjutkan,

"Ini disengaja."

"Mereka ingin kita menemukan flashdisk ini."

Pak Arman kebingungan.

"Untuk apa?"

Khoy tersenyum tipis.

"Supaya kita percaya..."

"...bahwa semua bukti sudah hilang."

Ruangan kembali sunyi.

Shai memandang partnernya beberapa detik.

Lalu berkata pelan,

"Kalau begitu..."

"...bukti yang sebenarnya..."

"...masih ada di tempat lain."

Khoy mengangguk.

"Dan seseorang sedang berlomba dengan kita untuk menemukannya lebih dulu."

Di luar laboratorium...

Matahari mulai tenggelam.

Sementara itu, di sebuah tempat yang tidak diketahui...

Seseorang mematikan layar laptopnya.

Ia tersenyum puas.

"Lumayan."

"Mereka berhasil mengikuti petunjuk yang kuinginkan."

Ia berdiri.

Lalu berjalan menuju jendela.

"Duo Ghone..."

"Permainan ini akan semakin menarik."

Bersambung ke Bab 7...