DARU TAHTA TANPA MAHKOTA

Thumnuild Novel Daru Tahta Tanpa Mahkota


PROLOG Hening yang Menunggu Pecah



Tidak semua sekolah dikenal karena prestasi. 

Ada Sebagian yang dikenal karena sejarah. Sebagian lagi dikenal karena nama besar alumninya.

Namun ada satu sekolah yang membuat orang tua menarik napas panjang setiap kali mendengar namanya.

SMK Adhiraksa Mandala.

Nama Sebuah Sekolah Menegah kejuruan yang berdiri di pinggiran Kota Arutama, Sekolah itu memiliki reputasi yang sulit dihapus, Di mata masyarakat, sekolah tersebut adalah tempat berkumpulnya siswa-siswa bermasalah. Hampir setiap tahun terdengar kabar tentang perkelahian, perusakan fasilitas, hingga bentrokan antarpelajar.

Media hanya melihat apa yang terjadi di luar pagar sekolah.

Mereka tidak pernah mengetahui apa yang sebenarnya terjadi di dalamnya.

Di balik gedung-gedung bengkel, ruang praktik, lapangan olahraga, dan lorong-lorong panjang yang dipenuhi mural, terdapat sebuah tatanan yang tidak pernah tertulis dalam buku tata tertib.

Tidak ada yang mengajarkannya.

Tidak ada Pula yang mengesahkannya.

Namun semua siswa Begitu mematuhinya.

Di sekolah itu, rasa hormat tidaklah diwariskan.

Rasa hormat diperoleh. Bukan melalui ancaman. Bukan pula melalui jumlah teman. Melainkan melalui keberanian untuk berdiri di depan saat yang lain memilih mundur.

Setiap angkatan meninggalkan cerita. Ada yang dikenang sebagai pelindung. Ada yang diingat sebagai penghancur. Ada pula yang namanya perlahan menghilang ditelan waktu.

Lalu Kemudian datanglah tahun ajaran baru.

Seharusnya Tahun Ajaran Baru Menjadi semester awal yang tenang. Namun Hal itu tidak Terjadi di SMK Adhiraksa Mandala. Keseimbangan yang selama bertahun-tahun menjaga sekolah itu mulai retak. Kelompok-kelompok yang dulu saling menghormati mulai saling mencurigai. Kesepakatan lama satu per satu dilanggar.

Bisik-bisik tentang perebutan pengaruh terdengar di kantin, bengkel, hingga ruang ganti olahraga.

Semua orang tahu. Sesuatu akan terjadi.

Hanya saja... Tidak ada yang tahu siapa yang akan memulainya.

Pagi itu, gerbang sekolah terbuka seperti biasa. Ratusan siswa berjalan masuk sambil bercanda, mengeluh tentang tugas, atau sekadar mencari sarapan sebelum bel berbunyi.

Di tengah keramaian itu, seorang pemuda berdiri beberapa meter dari gerbang. Seragam putih abu-abunya tampak bersih. Tas ransel hitam menggantung di bahu kanan. Rambutnya dipotong pendek. Tidak ada yang mencolok dari penampilannya. Namun sorot matanya berbeda.

Tenang. Diam. Seolah sedang memandang sebuah tempat yang pernah menjadi bagian dari hidupnya.

Ia mengangkat kepala. Papan nama sekolah yang mulai memudar masih berdiri di tempat yang sama.


SMK ADHIRAKSA MANDALA

Sudah berbulan-bulan ia tidak melihat tulisan itu. Banyak kenangan tersimpan di balik gerbang tersebut. Sebagian ingin ia lupakan. Sebagian lagi justru terus menghantuinya. Ia menarik napas panjang. "Masih sama..." gumamnya pelan. Lalu ia melangkah. Satu langkah. Dua langkah. Semakin dekat menuju gerbang.

Tidak ada satu pun siswa yang menyadari siapa dirinya. Bagi mereka, ia hanyalah seorang murid biasa yang baru datang. Padahal, beberapa bulan yang lalu... Namanya pernah menjadi pembicaraan hampir di seluruh sekolah.

Daru Lahhami telah kembali.

Dan tanpa disadari siapa pun...

Langkah tenangnya pagi itu akan menjadi awal dari runtuhnya tatanan yang selama ini dianggap tidak mungkin tergoyahkan.

Karena terkadang... Badai terbesar tidak datang bersama petir. Ia datang dalam keheningan. Dan ketika semua orang menyadarinya... Segalanya sudah terlambat.




 Kembali ke Gerbang Lama


Udara pagi di Kota Arutama masih terasa sejuk ketika sebuah angkot berwarna biru tua berhenti di tepi jalan.

Pintunya terbuka.

Seorang pemuda turun dengan sebuah tas ransel hitam di bahu kanannya.

Ia mengenakan seragam putih abu-abu yang tampak baru disetrika. Sepatunya bersih, meski bukan merek mahal. Rambutnya dipotong pendek dan rapi.

Namanya Daru Lahhami.

Ia berdiri beberapa saat di trotoar, memandangi bangunan tiga lantai yang berdiri tidak jauh di depannya.

Tulisan besar yang mulai kusam itu masih sama seperti terakhir kali ia melihatnya.

SMK ADHIRAKSA MANDALA

Sudah hampir lima bulan ia tidak menginjakkan kaki di tempat itu.

Lima bulan yang cukup untuk mengubah banyak hal.

Daru mengembuskan napas perlahan.

"Akhirnya kembali juga."

Suara klakson kendaraan membuyarkan lamunannya.

Ia mulai melangkah menuju gerbang sekolah.

Semakin dekat, semakin banyak tatapan yang mengarah kepadanya.

Namun bukan karena mereka mengenal Daru.

Sebagian besar siswa baru mengira ia hanyalah murid pindahan.

"Eh, anak baru ya?"

"Kayaknya bukan."

"Nggak pernah lihat."

Bisik-bisik kecil terdengar dari berbagai arah.

Daru memilih mengabaikannya.

Ia melangkah melewati gerbang tanpa ekspresi.

Satpam sekolah yang sedang duduk di pos hanya melirik sekilas, lalu kembali membaca koran.

Belum ada yang menyadari siapa dirinya.

Koridor lantai satu masih dipenuhi suara langkah kaki para siswa.

Beberapa guru sibuk menuju ruang kelas.

Di sisi lain, kantin mulai ramai oleh siswa yang belum sempat sarapan.

Daru berjalan perlahan, mengamati setiap sudut sekolah.

Ada mural baru di dinding bengkel.

Lapangan basket dicat ulang.

Posisi ruang organisasi siswa juga berubah.

Namun ada sesuatu yang terasa berbeda.

Suasananya.

Sekolah ini dulu memang keras.

Tetapi sekarang...

Terlalu sunyi.

Bukan sunyi karena damai.

Melainkan sunyi seperti orang-orang yang sedang menunggu sesuatu terjadi.

Tatapan para siswa saling mengawasi.

Kelompok-kelompok kecil berdiri di sudut lorong.

Tak banyak yang bercanda.

Daru menghentikan langkahnya.

"Berubah sejauh ini..."

gumamnya pelan.

"Daru?"

Sebuah suara memanggil dari belakang.

Daru menoleh.

Seorang pemuda bertubuh tinggi berlari kecil menghampirinya.

Wajahnya tampak terkejut sekaligus lega.

"Demi apa... benar lo?"

Daru tersenyum tipis.

"Lama nggak ketemu, Raksa."

Raksa Pradana.

Teman sekelas Daru sejak kelas X.

Meski tubuhnya tinggi besar, Raksa dikenal sebagai siswa yang lebih suka menghindari masalah.

Raksa menepuk bahu Daru cukup keras.

"Ke mana aja lo? Satu sekolah nyariin."

"Ada urusan keluarga."

"Itu doang jawabannya?"

Daru hanya tersenyum.

Raksa menghela napas.

"Ya udahlah... yang penting lo balik."

Namun senyum Raksa perlahan menghilang.

"Waktu lo pergi..."

"Sekolah berubah."

Daru menatapnya.

"Seberat itu?"

Raksa mengangguk pelan.

"Lebih parah dari yang lo bayangin."

Bel masuk berbunyi.

Namun tidak ada satu pun dari mereka yang langsung berjalan menuju kelas.

Raksa justru mengajak Daru menuju lorong belakang gedung bengkel.

Tempat itu dulu sering menjadi lokasi mereka berbincang sepulang sekolah.

Kini suasananya berbeda.

Beberapa bekas pukulan masih terlihat di tembok.

Pagar besi penyok.

Lantai semen dipenuhi goresan.

Raksa bersandar di dinding.

"Dulu sekolah ini cuma keras."

"Sekarang?"

"Semua orang haus kekuasaan."

Daru terdiam.

Raksa melanjutkan.

"Kelompok lama pecah."

"Kesepakatan yang dulu dijaga udah nggak berlaku."

"Setiap minggu ada aja yang masuk UKS."

"Bahkan ada yang sampai keluar sekolah."

Daru menatap lurus ke arah halaman.

"Guru?"

"Nyerah."

"Kepala sekolah?"

"Nggak tahu semuanya."

"Lalu sekarang siapa yang pegang sekolah?"

Raksa tertawa kecil.

"Itu masalahnya."

"Nggak ada."

"Semua merasa paling kuat."

Daru menghela napas.

"Ternyata... lebih kacau dari dugaan gue."

Bel kedua berbunyi.

Para siswa mulai masuk kelas.

Namun dari arah lapangan terdengar suara gaduh.

Brak!

Seseorang terpental hingga menghantam bangku taman.

Puluhan siswa spontan menoleh.

"Lagi..."

gumam Raksa.

Di tengah kerumunan berdiri seorang siswa berambut cepak dengan tubuh atletis.

Seragamnya berantakan.

Tatapannya tajam.

Tanpa mengucapkan sepatah kata pun, ia menatap siswa yang terjatuh di depannya.

Tak ada guru yang berani mendekat.

Beberapa siswa justru mundur.

"Siapa dia?"

tanya Daru.

Raksa menjawab pelan.

"Banu Waskita."

"Ketua kelompok Blok Timur."

"Jangan cari masalah sama dia."

Banu menoleh ke arah kerumunan.

Tatapannya menyapu setiap wajah.

Lalu...

Tatapan itu berhenti tepat pada Daru.

Keduanya saling memandang beberapa detik.

Tidak ada kata-kata.

Tidak ada ancaman.

Namun seluruh suasana mendadak terasa berat.

Banu mengernyit pelan.

Seolah wajah Daru tidak asing baginya.

Sementara Daru tetap berdiri tenang tanpa mengalihkan pandangan.

Raksa menelan ludah.

"Jangan..."

bisiknya pelan.

"Tolong jangan mulai apa-apa di hari pertama lo balik."

Daru tidak menjawab.

Ia hanya memandang pria yang berdiri di tengah lapangan itu.

Sementara di sisi lain, Banu perlahan membalikkan badan dan pergi meninggalkan kerumunan.

Namun sebelum menghilang di balik gedung bengkel, ia sempat berkata kepada anak buahnya.

"Cari tahu siapa anak itu."

Raksa mendengar ucapan tersebut.

Wajahnya langsung berubah pucat.

Sedangkan Daru...

Masih berdiri dengan ekspresi yang sama.

Tenang.

Seolah badai yang mulai mendekat bukanlah sesuatu yang perlu ia takutkan.




Nama yang Mulai Diingat



Suara bel pertama telah lama berhenti bergema.

Koridor SMK Adhiraksa Mandala kembali dipenuhi langkah kaki para siswa yang bergegas menuju kelas masing-masing. Namun, tidak semua orang benar-benar memperhatikan pelajaran.

Di beberapa sudut sekolah, bisik-bisik mulai menyebar.

"Katanya Daru balik."

"Daru yang dulu itu?"

"Iya."

"Serius?"

"Raksa sendiri yang lihat."

Nama itu berpindah dari satu kelompok ke kelompok lain seperti angin yang membawa bara kecil.

Sebagian hanya penasaran.

Sebagian lagi tampak tidak peduli.

Namun ada pula yang langsung terdiam ketika mendengarnya.

Daru duduk di bangku paling belakang kelas XI Teknik Mesin.

Ruangan itu masih sama.

Jendela di sisi kiri.

Papan tulis yang mulai kusam.

Meja guru yang sudah beberapa kali dicat ulang.

Yang berubah adalah orang-orang di dalamnya.

Beberapa teman lama menyambutnya dengan anggukan.

Sebagian hanya melirik sekilas.

Ada pula wajah-wajah baru yang belum pernah ia lihat.

Guru memasuki kelas dan pelajaran dimulai seperti biasa.

Namun perhatian Daru tidak sepenuhnya berada di depan.

Ia memperhatikan setiap ekspresi teman-temannya.

Ada rasa canggung.

Ada ketegangan.

Seolah semua orang sedang menyembunyikan sesuatu.

Saat jam istirahat berbunyi, Raksa langsung menghampiri.

"Ayo ke kantin."

Daru mengangguk.

Mereka berjalan melewati lorong utama.

Baru beberapa langkah, beberapa siswa memberi jalan tanpa diminta.

Bukan karena takut.

Melainkan karena ingin mendengar percakapan mereka.

Raksa menyadarinya.

"Mereka mulai ngomongin lo."

"Biarin."

"Lo santai banget."

"Gosip bakal hilang sendiri."

Raksa hanya menggeleng pelan.

"Kalau di sekolah ini, gosip justru bisa jadi awal masalah."

Kantin berada di sisi timur sekolah.

Tempat itu selalu menjadi titik pertemuan seluruh kelompok.

Siapa pun boleh duduk.

Tetapi semua orang tahu ada meja-meja tertentu yang tidak boleh ditempati sembarangan.

Raksa memilih meja kosong di dekat jendela.

Tak lama kemudian, seorang siswa bertubuh kurus menghampiri sambil membawa dua gelas es teh.

"Wah... benar ternyata."

Ia tersenyum lebar.

"Daru."

Daru menatapnya beberapa detik sebelum akhirnya tersenyum tipis.

"Niskala."

"Lama banget ngilang."

Niskala Pramudya adalah teman seangkatan mereka.

Tubuhnya tidak besar.

Namun hampir semua informasi yang beredar di sekolah pernah melewati telinganya.

Ia lebih suka mengamati daripada ikut bertarung.

Orang-orang sering bercanda bahwa jika dinding sekolah bisa berbicara, suaranya pasti seperti Niskala.

Niskala duduk tanpa diminta.

"Lima bulan lo pergi, banyak yang berubah."

"Gue udah dengar sedikit."

"Belum cukup."

Niskala mencondongkan badan.

"Sekarang sekolah ini bukan lagi soal siapa paling kuat."

"Tapi siapa paling banyak teman."

"Dan siapa yang paling banyak musuh."

Daru mendengarkan tanpa memotong.

Niskala mulai menjelaskan.

Blok Timur masih dipimpin Banu Waskita.

Mereka terkenal disiplin dan mengandalkan kekuatan fisik.

Blok Barat dipimpin Elang Ranujaya.

Kelompok itu jarang mencari keributan, tetapi hampir selalu mengetahui apa yang akan terjadi lebih dulu.

Blok Bengkel dipimpin Jatmika Wiraatmaja.

Mereka terdiri dari siswa-siswa teknik yang kompak dan terkenal saling melindungi.

Sedangkan Blok Atap...

Niskala berhenti sejenak.

"Belum ada yang tahu siapa pemimpinnya."

Raksa ikut mengangguk.

"Yang pasti, mereka selalu muncul di saat yang aneh."

Daru mengingat nama-nama itu satu per satu.

"Terus... kenapa semuanya kelihatan siap perang?"

Niskala menarik napas panjang.

"Karena ada yang sengaja bikin mereka saling curiga."

Belum sempat percakapan berlanjut, suasana kantin mendadak hening.

Beberapa siswa berdiri.

Sebagian lainnya langsung menyingkir.

Langkah kaki terdengar mendekat.

Tok...

Tok...

Tok...

Empat orang memasuki kantin.

Di depan mereka berjalan seorang pemuda bertubuh tegap.

Tatapannya tajam.

Bekas luka tipis membelah alis kirinya.

Banu Waskita.

Pemimpin Blok Timur.

Ia tidak langsung menuju meja makan.

Matanya justru mencari seseorang.

Lalu berhenti pada Daru.

Seluruh kantin seakan menahan napas.

Banu berjalan perlahan hingga berhenti di depan meja Daru.

Tak ada satu pun anak buahnya yang berbicara.

"Jadi..."

Suara Banu terdengar datar.

"Lo Daru."

"Iya."

"Banyak yang bilang nama lo pernah besar di sekolah ini."

Daru tetap duduk.

"Banyak orang juga suka melebih-lebihkan cerita."

Sudut bibir Banu terangkat tipis.

"Bagus."

"Berarti lo nggak gampang percaya omongan orang."

Beberapa detik berlalu tanpa suara.

Tak satu pun dari mereka berkedip.

Lalu Banu berbalik.

"Sampai ketemu lagi."

Ia pergi begitu saja bersama anak buahnya.

Begitu mereka keluar dari kantin, suara napas lega terdengar dari berbagai penjuru.

Raksa menatap Daru.

"Lo tahu nggak barusan itu apa?"

"Apa?"

"Banu lagi ngetes lo."

"Ngetes?"

"Iya."

"Kalau lo tadi berdiri atau terpancing emosi, mungkin sekarang kantin udah jadi tempat berantem."

Daru mengambil gelasnya.

"Lalu?"

Raksa tersenyum tipis.

"Lo lolos."

Namun dari balik jendela kantin...

Sepasang mata lain diam-diam memperhatikan Daru.

Wajahnya tertutup bayangan.

Tak seorang pun menyadari keberadaannya.

Ia hanya berbisik pelan.

"Akhirnya... permainan ini benar-benar dimulai."





Bayangan di Atas Gedung



Langit Kota Arutama mulai dipenuhi awan kelabu.

Jam pelajaran terakhir berjalan lambat. Di dalam kelas XI Teknik Mesin, suara guru yang menerangkan tentang sistem transmisi hanya terdengar seperti dengungan bagi sebagian besar siswa.

Pandangan Daru sesekali beralih ke luar jendela.

Halaman sekolah tampak tenang.

Terlalu tenang.

Raksa yang duduk di sampingnya menyadari arah pandangan itu.

"Masih kepikiran yang di kantin?"

Daru mengangguk pelan.

"Banu bukan tipe orang yang datang cuma buat lihat wajah orang."

"Benar."

"Berarti ada alasan lain."

Raksa tidak menjawab.

Karena ia tahu, Daru benar.

Bel pulang akhirnya berbunyi.

Dalam hitungan menit, lorong sekolah dipenuhi siswa yang bergegas keluar.

Namun Daru tidak langsung pulang.

Ia berjalan sendirian menuju gedung bengkel.

Bangunan itu adalah tempat yang paling banyak menyimpan kenangan baginya.

Bengkel otomotif masih dipenuhi aroma oli dan besi.

Beberapa siswa kelas XII masih membereskan peralatan praktik.

Daru berhenti di depan pintu.

Tangannya menyentuh gagang pintu yang mulai berkarat.

"Masih belum diganti..."

gumamnya.

Tiba-tiba...

"Kau masih mengingat tempat ini."

Sebuah suara terdengar dari belakang.

Daru menoleh.

Seorang pria berusia sekitar lima puluh tahun berdiri sambil membawa kotak peralatan.

Rambutnya mulai memutih.

Tubuhnya kekar meski tidak lagi muda.

Pak Mahesa.

Guru praktik yang sudah mengajar di SMK Adhiraksa Mandala lebih dari dua puluh tahun.

Pak Mahesa tersenyum tipis.

"Lama menghilang."

"Maaf, Pak."

"Tak perlu minta maaf padaku."

Beliau menepuk bahu Daru.

"Yang penting sekarang jangan ulangi kesalahan yang sama."

Daru hanya mengangguk.

Ia tahu maksud ucapan itu jauh lebih dalam daripada yang terdengar.

Sementara itu...

Di atap gedung utama.

Seorang pemuda bersandar di pagar besi.

Angin sore meniup rambut hitamnya.

Tangannya memegang kamera digital kecil.

Lensa kamera itu mengarah ke halaman sekolah.

Klik.

Klik.

Klik.

Ia memotret hampir setiap kelompok yang keluar dari gerbang.

Tak lama kemudian, seorang siswa lain menghampiri.

"Lapor."

Pemuda itu tetap memandang layar kameranya.

"Daru sudah kembali."

"Iya."

"Bagaimana menurutmu?"

"Dia bukan orang yang suka mencari masalah."

"Lalu?"

"Justru itu yang berbahaya."

Pemuda itu mematikan kameranya.

"Seseorang yang bisa menahan diri biasanya lebih sulit dikalahkan."

Wajahnya masih belum terlihat jelas.

Namun dari nada bicaranya, jelas ia bukan siswa biasa.

Di sisi lain sekolah...

Banu Waskita sedang duduk di tribun lapangan bersama tiga anak buahnya.

Salah satu dari mereka berkata,

"Bang, mau kita pantau terus?"

Banu menggeleng.

"Belum."

"Kenapa?"

"Kalau dia memang Daru yang dulu..."

"...dia pasti bergerak sendiri."

"Kalau ternyata cuma omong kosong?"

Banu berdiri.

"Berarti kita tidak kehilangan apa-apa."

Tatapan Banu mengarah ke gerbang sekolah yang mulai sepi.

"Tapi firasatku mengatakan..."

"...anak itu bakal mengubah banyak hal."

Daru berjalan kaki meninggalkan sekolah.

Jalan menuju rumah kontrakannya melewati sebuah gang sempit.

Suasananya lengang.

Beberapa warung mulai tutup.

Saat melewati tikungan, langkahnya berhenti.

Di depan sana berdiri tiga siswa berseragam SMK Adhiraksa Mandala.

Mereka bukan dari kelasnya.

Salah seorang melangkah maju.

"Lo Daru?"

"Iya."

"Ikut bentar."

"Kalau gue nolak?"

Siswa itu tersenyum sinis.

"Jangan bikin kami susah."

Daru menghela napas pelan.

"Aku capek."

"Besok aja kalau memang ada urusan."

Ucapan itu justru membuat ketiganya tertawa.

"Lo pikir kita lagi ngajak ngobrol?"

Salah satu dari mereka langsung meraih kerah seragam Daru.

Namun...

Tangannya berhenti di udara.

Daru menggenggam pergelangan tangan siswa itu dengan tenang.

Tidak keras.

Tidak kasar.

Hanya cukup kuat hingga membuat lawannya tak mampu bergerak.

Ketiganya langsung terdiam.

Tatapan Daru berubah dingin.

"Jangan sentuh aku."

Suasana mendadak sunyi.

Belum sempat keadaan berubah menjadi perkelahian...

Sebuah suara terdengar dari ujung gang.

"Heh!"

Ketiga siswa itu spontan menoleh.

Seorang pria dewasa sedang berdiri di dekat warung sambil membawa kantong belanja.

Karena panik terlihat warga sekitar mulai memperhatikan, ketiga siswa itu segera melepaskan niatnya.

"Belum selesai urusan kita."

Mereka mundur lalu pergi tergesa-gesa.

Daru melepaskan napas.

Ia merapikan kerah seragamnya.

Tanpa berkata apa pun, ia melanjutkan langkah pulang.

Namun ia tidak menyadari...

Dari atap sebuah ruko di seberang jalan, seseorang kembali mengangkat kamera.

Klik.

Foto Daru saat menggenggam tangan lawannya berhasil diabadikan.

Sosok itu menatap layar kameranya beberapa saat, lalu tersenyum tipis.

"Akhirnya aku menemukanmu..."

Ia memasukkan kamera ke dalam tas.

"Lihat saja, Daru Lahhami."

"Semakin lama kau berusaha menjauh dari pertarungan..."

"...semakin banyak orang yang akan memaksamu masuk ke dalamnya."



Harga Sebuah Prinsip




Sinar matahari pagi menyusup melalui celah tirai kelas XI Teknik Mesin.

Suasana kelas tampak lebih ramai dibanding hari sebelumnya. Beberapa siswa sibuk bercanda, sementara yang lain mengerjakan tugas yang seharusnya dikumpulkan sejak kemarin.

Daru duduk di bangkunya sambil membuka buku catatan.

Sejak kembali ke SMK Adhiraksa Mandala, ia berusaha menjalani hari seperti siswa biasa.

Namun ia tahu, keadaan tidak akan membiarkannya seperti itu.

Raksa datang sambil membawa dua bungkus roti.

"Ini."

Daru menerimanya.

"Makasih."

Raksa duduk di sampingnya.

"Gue dengar ada yang nyegat lo kemarin."

Daru tidak terlihat terkejut.

"Cuma salah paham."

Raksa mendengus pelan.

"Kalau di sekolah ini, semua masalah selalu diawali dengan 'cuma salah paham'."

Daru hanya tersenyum tipis.

Jam istirahat pertama.

Kantin kembali dipenuhi siswa.

Namun pagi itu suasananya jauh lebih sunyi.

Banyak mata mengarah ke satu meja.

Meja tempat Daru, Raksa, dan Niskala duduk.

Niskala menyandarkan siku di meja.

"Lo sekarang terkenal."

"Bukan hal yang bagus."

"Bukan."

Niskala mengeluarkan ponselnya.

"Ini alasannya."

Di layar terlihat sebuah foto.

Foto itu memperlihatkan Daru sedang menggenggam pergelangan tangan seseorang di sebuah gang.

Sudut pengambilannya jauh.

Seolah diambil diam-diam.

Raksa membelalak.

"Siapa yang motret?"

Niskala menggeleng.

"Nggak tahu."

"Foto ini udah nyebar ke hampir semua grup angkatan."

Daru memperhatikan foto itu tanpa perubahan ekspresi.

"Berarti memang ada yang sengaja."

Di sisi lain sekolah...

Blok Timur sedang berkumpul di tribun lapangan.

Seorang anggota menyerahkan ponselnya kepada Banu.

"Itu foto yang kemarin."

Banu melihat layar beberapa detik.

"Lihat tangannya."

"Kenapa, Bang?"

"Orang itu nggak pakai tenaga penuh."

"Maksudnya?"

"Kalau dia mau..."

"...pergelangan tangan lawannya bisa patah."

Anak buahnya saling berpandangan.

Banu mengembalikan ponsel itu.

"Terus awasi."

"Tapi jangan sentuh dia dulu."

Sementara itu, di Gedung Bengkel.

Jatmika Wiraatmaja sedang membantu beberapa adik kelas memperbaiki mesin motor praktik.

Tubuhnya tidak sebesar Banu.

Namun wajahnya selalu terlihat tenang.

Seorang anggota kelompoknya datang tergesa-gesa.

"Mas."

"Ada apa?"

"Daru balik."

Jatmika menghentikan pekerjaannya.

"Daru..."

Nama itu seperti membangkitkan ingatan lama.

"Apa dia sudah mulai ikut kelompok?"

"Belum."

"Bagus."

Jatmika kembali memasang baut mesin.

"Semoga tetap begitu."

Jam pelajaran terakhir berakhir lebih cepat karena salah satu guru menghadiri rapat.

Para siswa mulai berhamburan keluar kelas.

Daru dan Raksa berjalan melewati lorong belakang.

Tiba-tiba terdengar suara benda jatuh.

Brak!

Di dekat gudang olahraga, seorang siswa kelas X tersungkur ke lantai.

Tasnya terlempar.

Beberapa buku berserakan.

Di depannya berdiri dua siswa bertubuh besar.

"Udah dibilang..."

"Kalau lewat sini, bayar."

Siswa kelas X itu menunduk.

"Aku nggak punya uang."

Salah satu pelaku langsung mendorong bahunya.

"Kalau gitu pulang jalan kaki."

Beberapa siswa hanya melihat dari kejauhan.

Tak ada yang berani mendekat.

Raksa mengepalkan tangan.

"Sial..."

Daru tetap berdiri.

Tatapannya tertuju pada anak kelas X yang berusaha memungut bukunya.

Anak itu tidak melawan.

Ia hanya diam.

Salah satu pelaku kembali menendang buku yang baru saja dipungutnya.

Raksa berbisik,

"Daru..."

Belum sempat melanjutkan ucapan, Daru mulai berjalan.

Langkahnya tenang.

Ia berhenti tepat di antara kedua pelaku dan siswa kelas X itu.

"Kembalikan bukunya."

Nada suaranya datar.

Salah satu pelaku tertawa.

"Lo siapa?"

"Daru."

"Oh..."

"Jadi ini Daru."

Mereka saling berpandangan lalu tersenyum mengejek.

"Kami nggak ada urusan sama lo."

Daru menatap buku yang tergeletak.

"Kalau begitu, jangan bikin urusan."

Pelaku yang paling tinggi maju satu langkah.

"Kalau gue nolak?"

Daru tidak menjawab.

Ia membungkuk.

Mengambil buku yang kotor karena debu.

Lalu menyerahkannya kepada siswa kelas X.

"Nih."

Anak itu menerimanya dengan tangan gemetar.

"Terima kasih..."

Pelaku itu langsung menepuk dada Daru.

"Cari gara-gara?"

Daru menepis tangan itu perlahan.

"Aku cuma nggak suka lihat orang yang lebih lemah diperlakukan seperti itu."

Kalimat itu membuat lorong menjadi sunyi.

Beberapa siswa mulai berkumpul.

Tak lama kemudian, terdengar suara langkah cepat.

Pak Mahesa muncul dari ujung lorong.

"Ada apa ini?"

Kedua pelaku langsung mundur.

"Nggak ada apa-apa, Pak."

Pak Mahesa memandang satu per satu wajah mereka.

"Lain kali kalau saya lihat ada yang memalak adik kelas..."

"...urusan kalian bukan lagi dengan guru."

Kedua siswa itu memilih pergi.

Sebelum berlalu, salah satunya sempat menoleh ke arah Daru.

Tatapan itu penuh kebencian.

Sore mulai turun.

Daru berjalan menuju gerbang sekolah.

Siswa kelas X yang tadi ditolong berlari kecil menghampirinya.

"Kak..."

Daru berhenti.

"Terima kasih."

Daru tersenyum tipis.

"Lain kali jangan jalan sendirian."

"Iya, Kak."

Anak itu membungkuk lalu pergi.

Raksa memperhatikan semuanya.

"Gue tahu sekarang."

"Tahu apa?"

"Lo nggak akan pernah bisa benar-benar menghindari masalah."

Daru memandang langit yang mulai berubah jingga.

"Aku bukan mencari masalah."

"Tapi kalau harus memilih antara diam..."

"...atau membiarkan orang yang tidak bersalah disakiti..."

"...aku sudah tahu pilihanku."

Dari balkon lantai tiga, seseorang menyaksikan kejadian itu sejak awal.

Sosok tersebut menutup buku catatan kecil yang sedari tadi digunakan untuk mencatat.

Di halaman terakhir hanya ada satu kalimat.

'Daru Lahhami bukan petarung yang mencari kemenangan. Ia bertarung untuk mempertahankan prinsipnya.'

Sosok itu tersenyum tipis.

"Menarik..."

"Semakin menarik."

Bersambung...